Sabtu, Mei 21, 2016 0 komentar

Terbaliknya Sang Merah Putih dan Ukiran Makna Kebangkitan Nasional


Ini Ceritaku...!
Terbaliknya pengibaran bendera merah putih pada upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-108 pada Jumat, 20 Mei 2016 di halaman Kantor Walikota Bontang sudah dapat dipastikan akan menjadi berita bagi pembuat berita, maupun pembaruan status di media-media sosial. Pada saat tulisan ini dibuat, salah satu situs berita online, klikbontang.com sudah memuatnya sebagai berita dengan judul "Upacara Harkitnas, Bendera Merah Putih Terbalik".
Bukan hanya terbalik, walaupun insiden ini segera diperbaiki dengan didahului oleh instruksi komandan upacara kepada peserta upacara untuk balik kanan, pengibaran bendera pun tidak sampai di puncak tiang bendera sehingga mengundang lagi celetuk beberapa peserta upacara.
Bendera Terbaik, klikbontang.com
Tidak cukup sampai di situ, walaupun tidak banyak yang menyadari, pada saat Walikota Bontang, Ibu Neni Moerniaeni membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika, terjadi kesalahan penyebutan tahun kelahiran Sumpah Pemuda yang seharusnya tahun 1928 tetapi dibaca Sembilan Belas Delapan Dua (1982). Kesalahan berikutnya ketika menyebut panjang garis pantai Indonesia 99.093 km persegi. Seingat saya pada pelajaran sekolah dulu, pernah diajarkan bahwa km persegi merupakan satuan luas, bukan satuan panjang. Sedikit penasaran dengan hal ini, maka saya mencoba menelusuri dan membaca teks sambutan Menkominfo tersebut, ternyata tidak ada kesalahan pada penulisan tahun 1928, namun penyebutan panjang garis pantai dalam satuan km persegi memang tertulis dalam naskah.
Screenshot Sambutan Menkominfo
Beberapa kekeliruan tersebut merupakan hal yang manusiawi, dan tugas kita untuk lebih banyak belajar dan lebih cermat dalam bekerja. Kita tentu tidak berharap hal demikian terjadi, tetapi sifat usil kita juga manusiawi yang mudah terpancing dengan sesuatu yang tidak lazim. Di negeri kita dengan banyak keanehan ini, kebiasaan salah yang berulang-ulang dapat mengubah citra kelaziman dalam benak kita. Seperti lazimnya kita menyaksikan orang membuang sampah pada bukan tempatnya, maka saya berusaha tidak terpancing ketika pulang dari upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional di halaman Kantor Walikota Bontang, saya menyaksikan 'segerombolan' polisi naik truk dan melemparkan sampah bekas kemasan makanan dan minuman di jalanan.
Dengan tema peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-108 "Mengukir Makna Kebangkitan Nasional dengan Mewuiudkan Indonesia yang Bekerja Nyata, Mandiri dan Berkarakter", maka biarkanlah saya mengukir makna ini dengan memetik pesan 'Terbaliknya Sang Merah Putih' agar kita tidak terlena pada sesuatu yang berjalan sesuai seharusnya lalu bereaksi berlebih ketika sesuatu terjadi di luar kewajaran. Dengan insiden ini, kita seharusnya tersentak untuk secepatnya 'membalik' pikiran kita agar dapat melihat ketidakwajaran yang telah terformat menjadi kepantasan karena terbiasa kita lakukan.
Minggu, November 08, 2015 0 komentar

REVOLUSI KAMERA SELFIE

Swafoto
Ini Ceritaku...! Inovasi teknologi kamera masa kini semakin canggih. Gak kebayang jika di jaman dulu (jadul) dengan teknologi kamera analog kita akan menyimpan ratusan atau bahkan ribuan foto, berapa banyak roll film yang kita butuhkan. Tetapi di jaman kini (jakin), semua itu bukan lagi hal luar biasa dan sulit. Teknologi kamera digital membuat segalanya menjadi mainan di ujung sentuhan jari yang dengan sangat mudah dilakukan oleh anak kecil hingga yang jompo.

Belakangan ini dunia 'alay' lagi menggandrungi tren foto selfie yang dalam Wikipedia Bahasa Indonesia istilah selfie disebut "swafoto" yaitu foto potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera digital atau telepon kamera. Menyambut tren selfie ini, teknologi kamera pun semakin menggila dengan gebrakan-gebrakan yang tak terduga. Kamera depan (front camera) ponsel yang pada generasi awal ditujukan untuk video call, kini seakan berubah haluan untuk melayani 'birahi' para 'selfie maniak' yang tidak ingin melepaskan momen-momen istimewa tanpa rekaman kenangan.
Keangkuhan Digital
Aku tidak termasuk golongan selfie maniak. Tetapi entah bisikan atau godaan dari mana, di suatu tidur siang yang paginya dibasahi rerintik hujan, aku bermimpi berjalan di suatu tepian pantai. Tidak seperti biasanya (baca : namanya juga mimpi), aku melihat kaki langit menyatu dengan air laut tanpa dibatasi garis cakrawala. Dan yang lebih mempesona, di bagian atas kaki langit terdapat gumpalan awan yang membentuk seperti lukisan dengan berbagai obyek yang membentuk harmoni dengan warna air laut yang juga menyerupai lukisan. Tertarik dengan pemandangan yang luar biasa ini (masih dalam mimpi), aku pun mengeluarkan telepon genggam -yang lumayanlah sudah termasuk kategori smartphone walaupun- tanpa kamera depan. Tanpa membuang waktu, aku aktifkan kameranya untuk mengabadikan pemandangan yang hanya ada dalam mimpi ini. Tetapi aneh, begitu kamera aktif, bukannya gambar pemandangan di depanku yang muncul dalam layar kamera, tetapi malah terlihat gambar mukaku. Di dalam mimpi itu aku baru menyadari kalau smartphone kurang canggih yang sudah bertahun-tahun menemaniku ini ternyata bisa buat selfie. Tetapi di mana letak lensa kamera depannya? Tanpa menganalisa, pikiranku pun tergiring untuk membenarkan bahwa lensanya menyatu dengan layar. Aku melihat di bagian layarnya agak ke atas seperti ada cekungan gambar, dan di dalam mimpi itu pun aku memastikan bahwa di situlah letak kameranya.

Hari sudah agak sore ketika aku terbangun dan otomatis mimpi tentang kamera pun berhenti. Meski tidak jadi selfie dan mengambil gambar pemandangan unik dalam mimpiku, aku melanjutkan mimpi itu diluar tidur dengan memikirkan kemungkinan untuk melakukan revolusi teknologi kamera selfie, dimana lensa kamera depan ponsel tidak lagi di luar bagian atas layar, tetapi menyatu dalam layar itu sendiri. Meskipun aku tidak punya kecakapan dalam teknologi kamera, tetapi tidak menutup kemungkinan jika mimpi di tidur siangku ini bisa menjadi nyata di masa depan. Mungkin agak berlebihan aku menyebutnya sebagai revolusi kamera selfie, tetapi aku mengabadikan mimpiku dengan tulisan ini sebelum semuanya menjadi nyata dan mimpiku akan dikenang mendahului penemuan para ahli.

Sebagai perbandingan, berikut ilustrasi kamera depan smartphone pada umumnya saat ini dengan yang tampak dalam mimpiku.


Maaf, baru bisa jadi pemimpi. Ayo bangun!!!
Minggu, Maret 22, 2015 0 komentar

Mengatasi BSM Mobile Banking yang Tidak Bisa Diaktivasi pada Blackberry

Ini Ceritaku..!
Penggunaan mobile banking saat ini sudah sangat populer, terutama yang lebih suka bertransaksi secara online dan tidak mau direpotkan dengan transaksi fisik yang butuh waktu bahkan energi yang lebih banyak. Disamping mobile banking dengan menggunakan ponsel, juga sudah banyak digunakan internet banking dengan menggunakan browser pada komputer. Tetapi menurutku, mobile banking lebih praktis karena dapat digunakan di mana saja tanpa harus menyalakan komputer atau laptop. Dan lebih repot lagi  jika tidak ada koneksi internet ke komputer.

Sedikit berbagi pengalaman terkait penggunaan mobile banking. Mungkin ada yang punya pengalaman yang sama denganku dan sedang mencari cara mengatasinya. Ceritanya begini! Awalnya saya menggunakan aplikasi mobile banking Bank Syariah Mandiri pada ponsel berplatform Java. Selama menggunakan aplikasi pada ponsel  tersebut, tidak pernah terjadi masalah pada aplikasi hingga akhirnya ponsel saya yang bermasalah, mungkin karena faktor usia yang sudah uzur. Saat itu, aplikasi BSM Mobile Banking belum tersedia versi untuk platform Android. Agar tetap dapat menggunakan aplikasi tersebut, saya memilih Blackberry. Sukses!!! Aplikasi BSM Mobile Banking berjalan mulus pada Blackberry saya. Suatu kesempatan, saya coba mengganti nomor ponsel terdaftar pada aplikasi tersebut melalui costumer service BSM. Sebelum Sang Costumer Sevice mengabulkan permintaan saya, beliau mengingatkan bahwa sering terjadi masalah aplikasi pada ponsel Blackberry dan menyarankan untuk mengganti hanya nomor SMS banking nya saja dan tidak perlu mengganti nomor mobile bankingnya. Tetapi karena saya tetap meminta menganti keduanya, maka Sang CS pun mendaftarkan nomor ponsel saya yang baru lalu memberikan nomor kode aktvasi aplikasi. Benar saja, aplikasi tidak bisa diaktivasi. Tidak putus asa, saya coba uninstall aplikasinya lalu install lagi. Berkali-kali saya coba, begita juga CS-nya ikut membantu tetapi tidak berhasil. Hingga akhirnya Si CS pun menyerah dan berjanji akan berkonsultasi ke BSM pusat. Sekitar sebulan kemudian, saya bertandang lagi ke kantor cabang BSM tersebut, berharap sudah ada solusi. Tetapi tetap saja, entah Si CS tersebut sudah berkonsultasi atau belum, yang jelas tidak ada solusi sama sekali hingga saat itu saya mencoba pada OS Android menggunakan Tablet. Meskipun sukses pada Android, tetapi saya masih penasaran dengan Blackberry dan beberapa kali mencobanya.

Jalan terang mulai terlihat dan pintu rahasia mulai terkuak ketika Balckberry saya 'wipe' dengan memilih wipe aplikasinya. Setelah aplikasinya semua terhapus, saya instal ulang semua aplikasi yang pernah saya gunakan, termasuk BSM Mobile Banking. Terdorong rasa penasaran yang masih membuntuti, saya coba aktivasi aplikasi tersebut dengan menggunakan kode aktivasi yang masih saya simpan dengan rapi. Daaan..., ooo..ooooh. Berhasil!!! Aplikasi BSM Mobile Banking kembali dapat digunakan pada perangkat Blackberry tersebut.
Sabtu, November 19, 2011 0 komentar

Catatan Pinggir Kemiskinan

Tak habis kemiskinan diperbincangkan sebagaimana orang miskin tak juga berkurang kuantitas dan kualitasnya. Semua juga tahu kemiskinan adalah suatu kondisi yang tidak pernah nyaman tapi ada saja yang menjadikannya obyek pencarian keuntungan baik material, sosial bahkan yang paling gila adalah keuntungan politis. Sebagai orang yang pernah merasakan getirnya kemiskinan, saya hanya ingin menjadikan catatan ini menjadi penyemangat bagi saya untuk tidak meratapi kemiskinan diri dan menguatkan siapa pun untuk melewati masa yang sama dengan terus mengoptimiskan hidup yang berlaku sekali di dunia ini. Kadang dalam kondisi miskin secara material kita jadi merasa sangat pantas dikasihani, diderma sehingga dengan melunturkan gengsi yang sebenarnya masih kukuh mengendap di dasar ego, kita secara tak sadar memprokalmirkan kemiskinan diri sendiri dengan mendaftarkan sebagai yang pantas mendapatkan uluran tangan, mendapatkan bantuan sosial, mencatatkan diri dalam data base orang miskin (penerima beras miskin, Raskin). Di sisi lain, ketika gengsi itu menyeruak dari kedalaman ego, kata 'miskin' mengundang 'sakit hati' ketika disematkan di muka terhormat kita. Sebutlah kondisi ketika berada dalam lingkungan yang menempatkan penghormatan bertingkat menurut status sosial dan ekonomi, maka ketidaknyamanan ini memaksa kita melangkahi status yang tidak bersesuaian.

Tidak ada larangan menjadi miskin, tetapi yang lebih penting dari itu adalah tidak ada perintah untuk memiskinkan diri. Jika miskin atau kaya adalah dua buah yang tinggal petik dari pohon nasib, maka tidak ada yang rela memetik buah kemiskinan itu meskipun buah kekayaan itu telah habis terpetik. Sebanyak-banyaknya uluran tangan untuk menyantuni orang miskin, sehebat-hebatnya konsep ZAKAT dalam keyakinan Muslim, tidak akan ada yang betah bermukim dalam kemiskinan. Bahkan betapapun Sang Rasul mulia, Muhammad SAW begitu mengasihi dan menyayangi orang-orang miskin dengan mendekatkan dirinya kepada mereka bukan hanya di dunia, tetapi kelak juga di akhirat. Tetapi segila-gilanya manusia, atau secinta-cintanya kepada Sang Rasul, maka ketika ditawarkan kekayaan mulia di antara 'kemiskinan' yang juga mulia,  maka pilihan waras tetap jatuh pada kekayaan.

Sungguh hati begitu pilu menyaksikan kemiskinan dijadikan komoditi politik untuk menuju dan mempertahankan kekuasaan. Bukan ingkar janjinya atas hak orang miskin --yang sudah usang untuk diperbincangkan--, tetapi memperdayakan orang-orang miskin yang hidup mayoritas di negeri yang kaya-raya ini membuat hati tak habis merasa. Ini wajar dalam strategi politik mereka, tetapi terasa menyayat hati bagi yang bernurani. Mereka, pemburu kekuasaan itu menyadari begitu sulit meyakinkan dan mendapatkan dukungan dari kalangan menengah ke atas yang umumnya berpendidikan atau berpengetahuan mapan, karena logika politik sangatlah berat diinjeksi menjadi kesepahaman dalam komunitas orang-orang berilmu. Maka orang-orang miskinlah yang paling mudah digiring rasa percayanya dengan retorika bual-basung yang membuai.

Tentu sebagai 'manusia' kita tidak ingin menjadikan orang miskin sebagai perabot kekuasaan di tengah deraan kesulitan hidupnya. Tidak salah mencurahkan perhatian pada mereka untuk memperjuangkan kelayakan hidupnya dengan mengangkat jargon-jargon politik yang pro rakyat (miskin) berupa kebijakan yang berpihak pada penguatan kesejahteraan mereka. Dan yang paling penting adalah orang-orang miskin sendiri meyakinkan diri untuk tidak berdamai dengan kemiskinannya. Aksi-aksi karitatif kepada orang-orang miskin sudah menjadi kewajiban bagi yang kaya dan sebaliknya orang-orang miskin pun berhak menuntut sistem sosial yang melingkupinya agar tidak selamanya menggantungkan nasib dari belasan kasih.
Selasa, November 01, 2011 0 komentar

Ogah Pake Media Pembelajaran Online

Internet semakin mudah diakses di mana-mana dan oleh siapa saja. Tidak peduli apapun profesinya bahkan status sosial ekonomi seseorang tidak lagi menjadi penghalang untuk bisa mengakses internet. Maraknya penggunaan jejaring sosial untuk berinteraksi secara online seperti FacebookTwitter ataupun lainnya membuat setiap orang berlomba-lomba menggunakan internet. Di antara sekian banyak pengguna media jejaring sosial terdapat beraneka kepentingan mulai dari yang sekedar bersenang-senang, tampil gaul, berinteraksi dengan teman yang jauh, memperluas jaringan bahkan mencari jodoh atau pacar. Tetapi dapat pula kita temui yang menggunakannya untuk berbisnis, promosi usaha dan pemasaran online. 

Ada hal yang cukup menarik dalam penggunaan jejaring sosial dan internet secara umum ketika dimaksimalkan sebagai media pembelajaran secara online dimana guru dapat berinteraksi dengan siswanya, dosen dengan mahasiswanya. Apa yang dilakukan oleh Acer Grup Indonesia melalui aksi program pelatihan teknologi informasi dengan nama Guru Era Baru  merupakan suatu bentuk kontribusi di bidang pendidikan yang bertujuan membuat lebih banyak guru Indonesia melek teknologi informasi. Sebagai kelanjutan dari program ini, maka Acer  mengadakan GURARU PESTA BLOGGER 2010 untuk mengapresiasi para guru yang sudah memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, terutama melalui blog. Apresiasi ini adalah Guru Era Baru Award, yang diserahkan pada acara puncak Pesta Blogger+ 2010 empowered by Acer, tanggal 30 Oktober 2010. Sukses dengan Pesta Blogger+ 2010 dengan keluarnya Pak Urip dari Pangkalan Bun sebagai penerima Guraru Award pertama melalui blognya Log Guru Kimia Borneo, maka dalam bentuk aksi yang sama, pada tahun 2011 Acer Grup Indonesia kembali menggelar ON|OFF 2011. Ini adalah fenomena yang menarik dari penggunaan media internet sebaga sarana pembelajaran yang tentunya banyak memberi nilai plus dari sekedar pembelajaran secara offline di ruang kelas.

Sungguh patut disayangkan ketika semakin meluasnya penggunaan internet di mana-mana, tetapi belum dimaksimalkan pemanfataannya untuk hal-hal yang positif termasuk dalam dunia pendidikan. Kita temui banyak pelajar atau mahasiswa setiap saat mengakses internet tetapi bukan untuk menunjang kegiatan belajarnya. Begitupun banyak guru atau dosen mengakses internet tetapi belum bisa bahkan ogah menggunakan internet sebagai media mengajarnya. Walaupun saat ini banyak pelajar atau mahasiswa mau tidak mau atau mungkin terpaksa mengakses internet untuk menyelesaikan tugas-tugasnya secara instant, tetapi apakah ada guru atau dosen yang meraasa terpaksa menggunakan internet untuk mempermudah tugas mengajarnya? Okay...! Mungkin Sang Guru atau Dosen pun menggunakan internet tetapi itupun sebatas menyiapkan materi pembelajaran untuk disajikan di ruang kelas, bukan menyajikan materi pembelajaran secara online. Pernyataan ini tentunya bukan berlaku secara umum, karena seperti disebutkan di atas bahwa sudah banyak pula guru atau pengajar menggunakan media sosial online sebagai sarana pembelajaran. Bahkan ada sekolah atau perguruan tinggi yang menyediakan web site resmi yang bukan hanya sebagai media informasi, tetapi juga memfasilitasi pembelajaran secara online.

Gagasan-gagasan berikut ini mungkin bisa dijadikan sebagai pertimbangan bagi tenaga pengajar yang belum menggunakan media online seperti blog bahkan situs jejaring sosial seperti facebook sebagai media pembelajaran :

  • Guru atau dosen dapat meng-upload materi pelajaran/kuliah pada blog yang disiapkan untuk pertemuan yang akan datang sehingga siswa/mahasiswa dapat men-download dan menyimak materinya sebelum menghadiri pelajaran/perkuliahan di ruang kelas.
  • Guru atau dosen yang berhalangan hadir di ruang kelas dapat memberikan materi secara online begitu pula siswa/mahasiswa pun memperoleh materinya ketika tidak sempat mengkuti pelajaran di ruang kelas.
  • Pemberian tugas kepada siswa/mahasiswa dapat disajikan secara online, bahkan pengumpulan tugas pun oleh siswa/mahasiswa dapat disampaiakan secara online melalui email.
  • Media jejaring sosial seperti facebook atau twitter dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman atau hal-hal lain yang perlu kepada siswa/mahasiswa sehingga tidak ketinggalan informasi dan perkembangan di sekolah/kampus.
  • Khusus untuk facebook misalnya, guru/dosen dapat membuat grup khusus untuk mata pelajaran/kuliahnya dan siswa/mahasiswa yang mengikuti ditambahkan ke dalam grup tersebut sehingga setiap saat dapat mengetahui informasi terbaru dari blog yang dikelola oleh guru atau dosennya.
  • Sebagai bahan referensi, Nona Dita (Anandita Puspitasari) telah menulis sebuah buku Panduan untuk Guru Era Baru berjudul Blog dan Media Sosial  yang dapat didownload gratis di sini.
Demikian mungkin sebagai curahan gagasan di antara banyak ide yang berseliweran di mana-mana untuk turut meramaikan meskipun tak seberapa berarti, tetapi adanya semangat ini setidaknya untuk menggerakan kesadaran kita bahwa luasnya dunia ini tak sulit untuk dijangkau dan begitu banyak hal-hal yang dapat dilakukan untuk memudahkan urusan kita tetapi kita masih enggan melakukannya.
Mari kita beraksi....!!!
Kamis, Juni 16, 2011 0 komentar

Bantu Pembangunan Masjid Nurul 'Ain

'Mesjid kampung'. Sebenarnya saya bertanya-tanya setelah melihat tulisan yang terpampang di bagian depan dinding mesjid ini. Mengapa mesjid kampung? Entahlah. Saya sendiri tidak begitu mengerti sistem tata nama atau pengklasifikasian masjid di Indonesia. Yang pasti masjid ini terletak di sebuah dusun yang sebenarnya tidak begitu terpencil, apalagi kampung ini sudah terjangkau jaringan listrik PLN. Dari segi transportasi juga tidak terasing karena kendaraan bermotor roda dua atau lebih juga sudah banyak yang masuk ke kampung ini. Hanya saja infrastrukturnya tidak begitu mendukung karena badan jalannya masih tanah yang sudah pasti saat hujan jalannya jadi becek. Begitu pula pada saat panas dan kering akan berdebu.


Masjid Nurul Ain, satu-satunya mesjid di kampung Waetuwo, Desa Arallae, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.   Tidak ada catatan  pasti kapan masjid ini mulai dibangun. Tapi berdasarkan penuturan warga setempat, masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1970-an.  Pada saat itu bangunan masih terbuat dari kayu dimana dinding dan lantainya terbuat dari kayu cendana. Sekitar tahun 1980-an, masjid ini pernah dipugar dan dibangun kembali secara permanen dengan model dan konstruksi yang sangat sederhana. Seiring dengan perjalanan waktu, kondisi masjid yang menjadi satu-satunya tempat beribadah masyarakat sekitar ini sudah tidak layak. Dari segi fisik sudah mulai usang dan tidak nyaman sebagai tempat ibadah. Begitupula daya tampung jamaah sudah tidak memadai.

Masjid Nurul 'Ain
Menyadari arti penting masjid Nurul 'Ain bagi waraga kampung Waetuwo, maka atas inisiatif pengurus masjid, pada awal tahun 2011, masjid ini kembali akan dipugar. Dengan modal swadaya masyarakat, mulailah diapasang fondasi untuk mengawali pembangunan masjid tersebut. Hingga beberapa bulan berjalan, pembangunan berhenti pada tahap pemasangan fondasi karena tidak cukup anggaran untuk melanjutkan tahap pembangunannya. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pengurus adalah membuat proposal bantuan pembangunan kepada pemerintah daerah setempat tetapi hingga saat ini belum ada tanggapan sama sekali.


Sebagai bentuk kepedulian, maka bersama catatan singkat ini dibuka kesempatan kepada para dermawan untuk turut ambil bagian dalam aksi amal jariyah membantu pembangunan masjid tersebut. Semoga dengan uluran tangan para dermawan akan membuka cahaya yang menjadikan warga kampung ini sebagai pencinta masjid dengan senantiasa memakmurkannya, menjalankan aktifitas ibadah dengan khusyu'.
Bagi para dermawan yang berniat membantu dapat menghubungi pengurus Masjid Nurul 'Ain :
  • Ketua : Bpk. H. Amir / No. HP. 0813 5593 8563
  • Sekretaris : Ibu Armawati / No. HP. 0852 4256 5223
  • Bendahara : Bpk. Muchtar / No. HP. 0813 3972 1195 
Alamat : Waetuwo, Desa Arallae, Kec. Kahu, Kab. Bone, Sulawesi Selatan.
Atau dapat menyalurkan bantuannya melalui rekening Bank BRI nomor 3421-01-017676-53-2 a.n. Muchtar.

Jumat, April 29, 2011 0 komentar

Menelusuri Makna "BIRTHDAY"

Sekitar 592,000,000 hasil. Yah, dengan keyword 'birthday', Mr. Google melaporkan sekitar 592 juta hasil penelusuran (diakses tanggal 29 April 2011). Kemudian dari salah satu hasil penelusuran, ditampilkan link http://en.wikipedia.org/wiki/Birthday dimana 'Birthday' diterjemahkan sebagai a day or anniversary where a person celebrates their date of birth. Dari sana aku pahami bahwa birthday adalah sebuah celebration yang bisa merujuk ke party. Sebagai orang Indonesia, kata itu kemudian dimaknai sebagai 'ulang tahun' atau hari kelahiran. Konon perayaan ulang tahun berawal di Eropa yang ketika itu mereka percaya bahwa pada saat seseorang berulang tahun ada roh jahat yang akan datang sehingga menimbulkan ketakutan. Untuk menjaganya dari hal jahat tersebut, maka diundanglah sanak keluarga dan teman-teman untuk memberikan doa dan pengharapan bagi yang berulang tahun. Dengan memberikan kado kepada yang berulang tahun diharapkan memberikan kegembiraan yang dipercaya dapat mengusir roh-roh jahat. Sampai dengan saat ini, satu tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari perayaan ulang tahun adalah hadirnya lilin yang bertengger di atas 'bongkahan' kue yang didesain sedemikian rupa sebagai simbol ulang tahun yang bersangkutan.

Selain kelaziman tersebut, ada pula orang yang merayakan ulang tahun secara unik dengan kejutan-kejutan dari orang-orang terdekatnya. Sebenarnya ini bukanlah perayaan, tetapi hanya berupa wujud perhatian dari orang-orang yang mengenalnya dan mengetahui ulang tahunnya dengan memberikan 'surprise' yang tak jarang justru mengagetkan bahkan membahayakan. Seperti pernah kita dengar atau baca beritanya ketika ada seorang siswa SMP di Balikpapan yang menemui ajalnya beberapa saat setelah teman-teman dan gurunya di sekolah memberikan surprise pada hari ulang tahunnya. Tentunya bukan masalah ulang tahun yang mengundang musibah tersebut, apalagi jika menghubungkan dengan mitos orang Eropa di masa awal yang menuduh keterlibatan roh jahat.

Saat ini perayaan ulang tahun masih menjadi tradisi orang modern bahkan sudah dijadikan ritual wajib tahunan bagi setiap pribadi terutama di daerah perkotaan. Setiap orang tentunya ingin menjadikan momen kelahirannya sebagai suatu hal yang penting dan bermakna dalam hidupnya sehingga dengan berbagai upaya bela-belain mewujudkannya dalam bentuk pesta yang kadang sangat meriah. Bagi yang berkecukupan tentunya tidak masalah, tetapi bagi yang hidupnya pas-pasan tentu tak harus kehabisan akal untuk memaknai momen spesial dalam hidupnya tersebut.

Sebagai orang yang pernah lahir ke dunia, aku pun tentunya memiliki hari kelahiran. Tetapi sepanjang hayatku hingga kini belum pernah aku memperingati hari istimewaku tersebut dalam suatu pemaknaan yang lebih dari hari-hari biasa dalam tahun hidupku. Bukan suatu aksi penolakan, tetapi sebagai orang udik yang sejak kecil terbiasa menjalani hari-hari ala kampung, aku tak pernah diperkenalkan dengan tradisi tersebut sehingga aku (maaf) menjadi risih jika tiba-tiba tampil dalam iringan "Happy Birthday to You" . Di hari yang penting itu, aku hanya ingin merenungkan sebuah makna perjuangan, pengorbanan, tumpahan darah Sang Bunda yang pernah meregang nyawa demi kehadiran sesosok makhluk mungil nan lemah yang kini telah tumbuh dengan segala keangkuhan dan kesombongan setelah melewati hari-hari dalam perawatan bunda dengan ketulusan serta perlindungan ayah dengan kesabaran yang kini masih setia mengiringi langkahku dengan doa-doa indahnya yang melenturkan bumi dan menyejukkan sengatan mentari.

Inilah hari istimeawaku, hari perjuangan, hari kemuliaan bagi bundaku yang di masa senjanya kini hanya dapat berkisah dengan pilu tentang anak-anaknya yang kini semakin jauh dari tatapan matanya. Bunda!!! Kini doa istimewa pula kupanjatkan kepada Allah, satu-satunya yang kini jadi tempatmu mengadukan kesah, semoga bunda dan ayah selalu berbahagia, meniti Ridha dan menggapai Rahmat-Nya yang tiada putus . Amin....!!!
Kamis, Maret 17, 2011 0 komentar

Cara Memasukan Foto Cinta Laura ke dalam Template

Tutorial photoshop yang sekarang saya pilih gimana cara masukin foto ke dalam template.. saya pilih karena banyak yang tanya..
Ada email ke saya katanya pengen tau cara masukin foto ke dalam template yang udah ada.. gambar template nya yang ini
rencana nya.. foto kita mau dimasukin ke dalam layar putih yang ditunjukin ma orang-orang di samping.
Gambar original nya bisa didownload yang ini.. (klik untuk memperbesar lalu save)
Buka gambar template..
Seleksi semua yang masuk ke dalam layar putih dengan PEN TOOL.. usahakan sedetail mungkin.. zoom kalo perlu.

hasil yang didapat :
kalo udah terseleksi pen tool klik kanan di layar > make selection

Hasil seleksinya bakalan seperti ini
Sampe disini ada pertanyaan ?
gak ada pertanyaan ya ? .. ya udah lanjut deh..  :p
Sekarang kita perhalus bagian tepi hasil seleksi tadi dengan feather.. Klik select >modify > feather

Sekarang telan eh tekan CTRL + J untuk mengcopy hasil seleksi menjadi layer baru..

Buka foto yang mau dibuat jadi objek nya.. saya pake Foto Cinta Laura aja deh..
setelah dibuka, drag foto cincha laura ke template yang udah disetting tadi

Foto Cinta Laura tadi di atur supaya pas sama kotak putih nya.. puter dikit..

Tukar layer 1 jadi di atas layer 2 ( drag layer 1 ke paling atas )

Matikan layer 2  dengan menghilangkan gambar mata di samping layer window ( Foto Cinta Laura) sehingga background putihnya keliatan..
seleksi background putih dengan polygonal lasso tool..

kalo udah.. nyalain lagi layer 2 … terus klik Select > inverse karena kita akan menyeleksi selain background putih
Tekan Tombol DELETE

Tekan CTRL + D untuk menghilangkan seleksi..
Sekarang kita buat bayangan supaya terkesan Real..
Buat layer baru di bawah layer 1 diatas layer 2 (foto Cinta Laura ).. ( antara layer 1 dan layer 2 (Foto Cinta Laura) )
Warnai bagian-bagian tertentu (yang diberi panah merah di gambar ) dengan Brush tool warna hitam

Klik Filter > Blur > Gaussian Blur

dan hasilnya :
disini Foto Cinta Laura saya Edit dikit .. dengan Image > Adjustment > Hue Saturation

Selamat mencoba yah..
Sumber : Cara Memasukkan Foto Cinta Laura ke dalam Template
Selasa, April 06, 2010 0 komentar

Penggalan-Penggalan Hidup yang Tercerai-berai

Sabtu, April 03, 2010 0 komentar

Sejauh Kaki Melangkah

 
Posted by Picasa
Senin, Desember 28, 2009 0 komentar

EMPAT TAHUN MENJALIN KEBERSAMAAN

Sebuah Dedikasi untuk SMA Hidayatullah Bontang
Oleh : Bun Yamin (Guru SMA Hidayatullah Bontang tahun 2002 – 2006)

Gedung SMA Hidayautullah Bontang


“Bekerja dengan cinta” dalam bahasa Kahlil Gibran tidaklah berlebihan dibandingkan “Dunia panggung sandiwara” dalam syair Ahmad Albar. Cinta merupakan kepasrahan sadar dalam lingkar ketulusan dan bukan kepura-puraan yang dipatok dalam penjara keterpaksaan. Melakoni setiap langkah harus dapat dinikmati dan ini hanya dapat terwujud dengan merasai setiap gerak sebagai cinta yang terejawantah. Kalau hanya sandiwara, maka setiap pemeran sadar akan akhir suatu cerita, sementara hidup adalah peran yang tak pernah disadari akhir kisahnya. Peranan dapat berubah setiap saat, tetapi citra sebagai makhluk ‘penghamba’ tidak dapat lepas, sehingga bekerja haruslah merupakan manifestasi penghambaan kepada Yang Tercinta. Mungkin inilah setitik keyakinan yang kuupayakan dalam setiap ayunan langkahku menapaki setiap jalur dalam alur kisah kehidupanku.

Pertengahan tahun 2002, awal sebuah peran yang kujalani dengan segala keterbatasan, kupatrikan tekad untuk membangun makna bahwa hidup adalah sebuah pelayanan. Banyak godaan dan bujuk rayu silih berganti, berlalu ataupun hinggap di benakku mencoba menakut-nakuti dengan keputusasaan atau mengiming-imingi harapan indah yang semestinya kuraih dalam sekejap. Tidak perlu munafik, keputusasaan dan mimpi-mimpi kadang mendominasi alam pikiranku, tetapi aku mencoba bertahan di pelataran nurani dengan segala daya. Kuyakinkan diri, tugas mulia ini tidak boleh disia-siakan. Ini tanggung jawab besar dan tidak banyak orang yang sanggup memikulnya. Di antara orang-orang yang memiliki kesanggupan, ternyata banyak yang tidak bersedia menerimanya. Karena aku menyatakan siap dalam bathinku, ketaksanggupan harus kuubah menjadi kesanggupan walaupun kenyataan nantinnya berkata lain. Aku harus siap dan ridha dengan segala pujian dan makian sebagai konsekuensi pernyataan bathinku.

Waktu berjalan dengan langkah-langkah berat, tetapi tak ada kata berhenti atas nama kelelahan, kebosanan, kejenuhan dan kejemuan. Cita ideal tetap kuusung tinggi-tinggi meski dengan tetesan keringat darah dan bah air mata harus mengiringi langkah-langkahku. Kutepis segala keraguan dan perjalanan harus kuteruskan. Hantu –hantu ‘putus asa’ dan ‘rasa rendah diri’ mencoba menawarkan ‘jasa kengerian’. Aku tak boleh kalah dan harus menang dalam setiap tahap pertarungan. Menang hari ini harus kubalas dengan menang dan menang lagi. Sukses tidak boleh dinilai dengan standar ganda, dan standar idealnya Ridha Allah SWT. Tetapi jangan sampai hal ini hanya pelarian dari ketakberdayaan diri dalam persaingan duniawi. Aku selalu bertanya dan meminta kejujuran bathinku untuk menjawab karena aku selalu takut dan curiga jangan sampai kemunafikanlah yang mendasari setiap langkahku. Berbahaya! Ini tak boleh dibiarkan. Aku harus selalu berkaca dalam kebeningan nurani, seperti apa tampang dari wajah bathinku yang tersembunyi di balik kepatuhan ragaku.

Banyak hal yang tak dapat terkata karena kesibukan menata emosi; pikiran yang tak terarah, semangat yang kembang-kempis dan ambisi yang mengebu-gebu. Hitungan detik kadang terasa begitu lama, tetapi pada kesempatan lain hitungan tahun terasa terlalu singkat. Semuanya terjadi karena sistem pembacaan emosi yang selalu mengalami fluktuasi dari skala dasar keceriaan sampai skala puncak kejenuhan. Begitulah pergantian cuaca dan musim emosi mengiringi pergantian waktu yang berpacu dalam kelajuan konstan tanpa dapat dihentikan dengan gaya apa pun (hukum I Newton tidak berlaku).

Mengemban tugas sebagai pendidik yang sejak awal kukisahkan dalam tulisan ini memang bukan tugas yang dapat dianggap enteng tetapi yang lebih sering terjadi adalah pendidik yang dipandang enteng di tengah masyarakat. Apalagi jika ia hanya ‘pendidik karbitan’ yang mengejar target jam mengajar agar mendapat upah. Sungguh menyedihkan dan patut dikasihani, bukan karena kekurangan materi yang nyata diperolehnya, tetapi karena kegersangan jiwa yang telah melanda bathinnya. Menjadi seorang pendidik tak selayaknya dipandang sebagai pangkat duniawi berbasis materi, tetapi ia adalah predikat pejuang yang harus lebih merindukan kesyahidan sebagai gelar anumerta dari Tuhannya. Mungkin terlalu ideal bagi manusia yang masih memandang kesuksesan dengan standar materi, tetapi ini juga terlalu indah bagi mereka yang telah menerjunkan diri dalam lautan cinta dan samudra kasih yang selalu merindukan pertemuan dengan Tuhannya.
Pernah berdiri di depan kelas ini sebagai 'tuan guru'

Aku berharap, idealisme yang kupegang bukan untuk sekedar menghibur diriku yang dalam pandangan dunia hanyalah rumput kering yang tersisa di tanah yang tandus. Dan jika boleh berharap yang lebih besar, aku tidak ingin memandang diriku lebih mulia hanya karena melihat kemuliaan dan kehinaan dengan pandangan universal yang acuannya adalah Ridha Allah. Selanjutnya aku pasrahkan hatiku kepada Allah yang dapat membolak-balikkan arah geraknya, semoga selalu dituntun ke arah jalan yang diridhai-Nya. Aku harus lebih banyak bersyukur, karena sejak menjalankan tugasku sebagai pendidik, begitu banyak pelajaran berharga yang kudapatkan. Aku seperti kembali menuntut ilmu di bangku kuliah dan bahkan lebih dari itu, ilmu yang kuperoleh harus dapat kubagi dengan segala daya harus kuupayakan untuk dapat melakukannya. Namun kesedihan tak dapat jua kututupi ketika aku merasa tak sanggup dan gagal memainkan peranku sebagai pendidik. Yang harus terus kupertahankan adalah semangatku untuk mencari ide dan solusi atas segala permasalahan apapun yang kuhadapi. Jika harus merasa gagal menjalankan tugas utamaku sebagai martyr di garis terdepan pendidikan anak bangsa, aku tetap harus meyakini hal ini sebagai proses betahap dan dengan kesungguhan penuh untuk meraih sukses yang gemilang di kemudian hari. Sukses yang kumaksudkan bukanlah prestasi material, tetapi kebanggan yang tiada tara ketika menyaksikan anak-anak didik yang sempat berinteraksi langsung dengan bidang ilmu yang kufasilitasi meraih kemampuan yang lebih dari yang kuharapkan. Aku kira inilah harapan yang diidam-idamkan dan kebanggaan yang selalu manis untuk dikisahkan oleh seorang pendidik.

Yang lebih menyejukkan jiwaku, aku bisa mengabdi di sebuah lembaga yang mengintegrasikan keyakinan dengan ilmu yang sejalan dengan praktek amaliah sehari-hari. Sungguh ini adalah pemandangan indah yang kuharapkan dapat kusaksikan setiap saat di mana pun. Karena dengan beginilah, pendidikan akan berinteraksi dengan hidup yang sebenarnya yaitu membangkitakan kesadaran tentang kemakhlukan diri yang menghamba kepada Pencipta alam semesta. Di sini wajah pendidikan ‘dibersihkan’ orientasinya dari yang bergerak dengan dorongan materi duniawi menjadi orientasi ruh ukhrawi. Kecerdasan universal yang diharapkan dalam orientasi ini adalah bangkitnya potensi diri menjadi kekuatan yang dapat menaklukkan dunia materi dan meletakkan segalanya di bawah kepentingan hidup yang hakiki pasca dunia. Semoga ini bukan utopia belaka, tetapi harapan nyata yang dapat diwujudkan dengan kesungguhan dan asa yang tak pernah putus pada Kasih dan Pertolongan Allah.
Di sini dulu biasa berdiri saat apel pagi

Namun kelebihan yang ada di lembaga ini kiranya tak perlu dirasakan sebagai kehebatan yang membuat kita lengah terhadap kekurangan kita. Karena jangan sampai identitas yang kita pasang hanya muncul dalam bentuk simbolis tanpa isi. Ketika kita tampil dengan model pendidikan berbasis syariah, maka kita harus meyakinkan masyarakat di sekitar kita bahwa hanya model seperti inilah yang paling sesuai dengan tuntutan zaman yang akan membawa kesuksesan hidup dunia-akhirat. Bahwa kegagalan-kegagalan bebagai sistem dalam membentuk perilaku dan membangun peradaban ilmu yang bermartabat semuanya diakibatkan kesalahan meletakkan dasar pendidikan. Argumen-argumen seperti ini harus dapat dikuatkan dengan menunjukkan bukti nyata dari produk system terbaik yang ditawarkan. Produk sistem tersebut berupa out put pendidikan yang menghasilkan manusia-manusia yang fasih membaca zaman dan terampil merakit pola kehidupan yang kokoh serta lebih siap menghadapi hidup pasca dunia.

Jika pada akhirnya aku harus beralih peran dari pengabdian di lembaga Pendidikan Hidayatullah, harpan-harapanku takkan pernah putus untuk dapat menyaksikan Hidayatullah tampil sebagai pioneer pendidikan yang tangguh, mampu melahirkan insan-insan tercerahkan, menjadi tonggak bangunan peradaban serta para mujahidnya selalu siap menumpahkan dara kesyahidan demi tegaknya kalimat tauhid. Dan pada peranku yang lain nantinya aku berharap dapat tetap konsisten memegang idealisme serta tetap komitmen membangun makna hidup sebagai sebuah pelayanan, terutama bagi pendidikan.

Sekarang pake netbook, di sini dulu saya masih mengandalkan 
spidol dan whiteboard

Kini aku harus menyampaikan terima kasih kepada semua warga Pondok Pesantren Hidayatullah serta semua kawan sejalan atas penerimaannya dan permaklumannya terhadap segala kekurangan dan kelemahan diriku. Aku percaya bahwa persaudaraan dan kasih sayang telah menyibakkan tirai keakuan sehingga tak ada ruang untuk menempatkan penyakit-penyakit di hati kecuali telah tercampakkan dengan kemaafan yang senantiasa siaga tanpa diminta. Kepada bapak Ustadz H. Jamaluddin Ibrahim, dengan tanpa melebihkan atau mengabaikan yang lain, aku ingin mengucapan terima kasih atas kepercayaan yang beliau titipkan, namun aku minta maaf sekiranya amanah itu tak dapat aku tunaikan dengan baik. Dan kepada bapak Drs. Nurdin AR. Yang menyertakan aku dalam menggarap lahan pendidikan di SMA Hidayatullah, semoga tetap ridha andai harus melepas segala tanggung jawabku. Jika kegagalan adalah sukses yang tertunda, maka kini aku telah sukses menyaksikan kegagalanku memberikan yang terbaik bagi SMA Hidayatullah. Kepada para santri SMA Hidayatullah yang senantiasa menyejukkan hatiku, aku titipkan semangat dan harapanku semoga kejayaan Islam berawal dari perjuangan kalian menuntut ilmu di sekolah ini. Akhirnya kepada bapak pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Cabang Bontang, Bapak H. Sofyan Sumlang, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kebersamaanku di Pesantren Hidayatullah tidak sesuai dengan harapan yang menjadi visi dan misi Hidayatullah.

Bontang, Juni 2006
Jumat, Oktober 16, 2009 0 komentar

Mudik Idul Fithri 1430 H





0 komentar

Mudik Idul Fithri 1430 H





Kamis, Oktober 15, 2009 0 komentar

Mudik Idul Fithri 1430 H





 
;